Terungkap! Ini Alasan RI Doyan Impor KRL Bekas Jepang

TANJUNG PRIOK, JAKARTA, INDONESIA - 2015/05/05: Some officers assisted heavy equipment lowered railroad cars at the Port of Tanjung Priok. PT KAI Commuter Jabodetabek (KJC) bring 32 units of KRL purchased a used 205 series from Japan. The train is the first stage of the delivery program for the procurement of 176 units of KRL 2014. (Photo by Garry Andrew Lotulung/Pacific Press/LightRocket via Getty Images)

Impor kereta bekas Jepang masih menjadi polemik antara pemangku kepentingan, yakni antara Kementerian Perhubungan dan Kementerian Perindustrian. Kemenhub mendorong adanya impor kereta karena terdesaknya kebutuhan untuk menggantikan kereta yang sudah usang, sedangkan Kemenperin meminta agar mendahulukan produksi dalam negeri, yakni dari PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA.

Dari segi harga, Pengamat Transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengungkapkan ada perbedaan harga yang mencolok antara produksi baru dalam negeri dengan impor kereta bekas. Ini yang menyebabkan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) terus-terusan mengimpor KRLĀ bekas dari Jepang.

“Itu impor cuma ongkos angkut aja kok dari Jepang, cuma Rp 1 miliar/(gerbong) kereta, mudah-mudahan gak naik harganya. Jadi semacam hibah, disana gak dipakai tapi di kita masih bisa kepakai 10 sampai 15 tahun,” ungkap Djoko kepada CNBC Indonesia, Kamis (2/3/23).

“Kalau INKA harga Rp 260-270 miliaran untuk 1 train set, 1 rangkaian ada 12 kereta ya,” lanjutnya.

Dengan demikian, harga impor 1 rangkaian kereta dari Jepang hanya membutuhkan biaya sekitar Rp 12 miliar. Perbedaannya sangat jauh, 25x lipat lebih murah. Namun, kereta tersebut tetap memerlukan biaya tambahan untuk pergantian fasilitas.

“Toh nanti ada TKDN, nanti AC diganti, kan gak mungkin AC 4 musim. Kita kan ngga butuh AC panas, ngga usah dipanasin juga hangat,” sebut Djoko.

Jika nantinya pemerintah memilih untuk impor kereta dari Jepang, maka memerlukan proses waktu antara 3-4 bulan untuk selesai. Waktu ini dirasa lebih logis untuk memenuhi keterdesakan KRL yang sudah usang saat ini. Apalagi dari segi biaya subsidi seperti PSO (Public Service Obligation) lebih bisa ditekan.

“Jepang Rp 1 miliar/kereta jadi Rp 12 miliar, murah kan. Tapi memang subsidi PSO rendah. Kalau kereta baru subsidi PSO meningkat, seperti LRT Jabodebek PSO tinggi tapi tarif Rp 10-15 ribu,” ujar Djoko.

Sebagai catatan, KCI mengajukan izin untuk mengimpor KRL bekas dari Jepang. Alasannya, ada 16 train set KRL Jabodetabek yang harus dipensiunkan pada 2023 dan 2024.

KCI telah mengajukan surat izin impor KRL Bekas Jepang ke Ditjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan sejak 13 September 2022. Dalam surat yang diajukan tersebut, KCI berencana akan mengimpor Barang Modal Dalam Keadaan Tidak Baru (BMTB) berupa 120 unit KRL type E217 untuk kebutuhan 2023 dan 228 unit KRL dengan tipe yang sama untuk kebutuhan 2024. Adapun pos tarif/HS Code 8603.10.00.

KRL type E217 merupakan KRL yang diperkenalkan East Japan Railway Company (JR East) dan kini sudah pensiun. KRL jenis ini diproduksi pada akhir 1995 hingga akhir 1999 dan melayani rute Yokosuka-Sobu Rapid di Jepang. Adapun pabrikan yang memproduksi KRL jenis ini adalah Tokyu Car Corporation (J-TREC Yokohama), Kawasaki Heavy Industries, JR East Niitsu Vehicle Manufacturing (J-TREC Niitsu), dan JR East Ofuna Plant.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*