Alternatif Bosan Menu Lebaran, Ternyata Bakso Makanan ‘Impor’

Bakso Cikini (CNBC Indonesia/Lynda Hasibuan)

Makanan bersantan menjadi sesuatu yang tak bisa dilepaskan di perayaan Idul Fitri di Indonesia. Rendang, gulai, opor dan sayur labu kuning, semuanya menggunakan santan.

Tiap kali mengunjungi rumah tetangga atau sanak saudara pasti kita akan ditawari menyantap itu semua. Jika ditolak, jelas itu tidak menghormati sang tuan rumah. Mau tidak mau pasti kita akan menyantapnya.

Menyantap itu semua di satu atau dua rumah wajar, tapi jika sudah rumah ke-5 atau ke-10 pasti kita bosan. Perut begah, lidah mulai terasa tidak enak. Kita tidak bisa membedakan lagi mana rendang yang enak atau tidak, saking terlalu seringnya. Parahnya, ancaman kolesterol pun semakin tinggi karena banyak makan santan.

Dari sinilah muncul upaya untuk menyantap sesuatu yang berbeda. Dan bakso adalah opsi terbaik. Sejauh ini memang tidak ada studi yang menunjukkan kepopuleran bakso di hari raya, tetapi secara empiris bisa dibuktikan.

Coba sesekali perhatikan tukang bakso gerobakan di pinggir jalan. Di Lebaran, mereka pasti buka dan rela tidak merayakan hari kemenangan itu bersama keluarga. Menjelang siang hari pengunjung memadati warung bakso. Sampai-sampai pedagangnya kewalahan melayani para pembeli.

Panasnya kuah kaldu dibarengi kenyalnya bulatan bakso ditambah saus dan sambal memang menarik perhatian masyarakat. Tiap kali mencicipi, keringat mengucur deras dan menambah sensasi berbeda bagi penikmatnya. Mungkin, bakso membuat diet yang dilakukan saat bulan puasa lalu menjadi gagal. Sebab, bakso buat penikmatnya menambah berulang kali.

Barangkali, para penikmat bakso itu tidak mengetahui kalau tanpa pedagang Tionghoa yang datang bulatan daging rebus itu tidak bisa mereka nikmati. Ya, menurut Fadly Rahman dalam Jejak Rasa Nusantara (2016), bakso adalah makanan khas China.

Asal katanya saja dari bahasa Hokkien, yakni Bak-So yang berarti daging giling. Di daratan China, bakso menggunakan daging babi giling. Namun, saat tiba di Indonesia yang penduduknya mayoritas Muslim, bakso menggunakan daging sapi.

Rasanya tak kalah nikmat.

Dalam berbagai resep yang berseliweran di internet, bakso khas China hanya murni bulatan daging. Ini berbeda dengan di Indonesia.

Bakso di Indonesia mayoritas memiliki bahan pedamping, seperti bihun, mie, soun, caisim, tauge, dan seledri. Seluruhnya melengkapi rasa daging itu sendiri. Bahkan, banyak yang percaya keberadaan sayur-sayuran itu sebagai penetralisir dari bahaya berlebih mengonsumsi daging.

Perbedaan pun tak sampai disitu. Pakar kuliner Murdijati Gardjito dalam Makanan Kuliner Indonesia (2017) menyebut begitu masuk ke Indonesia, bakso memiliki berbagai macam variasi tergantung daerah masing-masing.

Ada bakso Wonogiri, bakso Solo, bakso Malang, bakso Tasikmalaya, dan sebagainya. Masing-masing memiliki perbedaannya. Bakso Malang, misalnya, tak hanya berisi bulatan daging, tetapi lengkap juga dengan pangsit goreng, tahu, dan siomay. Lalu, bakso Tasikmalaya banyak yang mencampurkan babat atau jeroan di dalamnya.

Sedangkan di Tangerang, ada penjual bakso yang unik. Tukang bakso itu menjajakan bakso ayam, bukan sapi, beserta bacang dan tulang-tulang ayam.

Oiya, tak hanya variasi per daerahnya yang berbeda, jangan lupa juga kalau bakso di Indonesia pun beragam jenisnya. Ada bakso urat, bakso telur, dan kini makin beragam: bakso aci, bakso keju, bakso beranak, dan sebagainya.

Banyaknya variasi bakso di Indonesia ini yang membuatnya menjadi salah satu kekayaan kuliner Indonesia. Namun, satu hal pasti dari variasi bakso adalah penggunaan kuah kaldu nan gurih dan wangi. Ini barangkali adalah kunci. Bakso yang enak adalah bakso yang tanpa ditambahkan kecap atau saus pun sudah lezat.

Tiap orang pasti punya rekomendasi tukang bakso favorit. Maka, di hari raya ini berhenti sejenak makan opor dan segeralah mampir ke tukang bakso terdekat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*